Follow by Email

Puluhan Mantan Pengguna Narkoba Jarum Suntik Jadi Duta KP

1 komentar
 REPUBLIKA.CO.ID,PALEMBANG-Puluhan mantan pengguna narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba) dengan jarum suntik di 16 kecamatan dalam wilayah Kota Palembang, Rabu, direkrut menjadi duta Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) kota tersebut.
Sebelum diterjunkan, mereka diberikan pembekalan dengan cara pembentukan komunitas teman sebaya untuk menginformasikan bagi pengguna narkoba lainnya akan bahaya penularan AIDS dan HIV melalui jarum suntik.
Sekretaris KPA Kota Palembang, Zailani UD, pada pertemuan dengan para pengguna narkoba jarum suntik itu mengatakan sebanyak 47 persen penyebaran AIDS dan HIV di daerah tersebut melalui jarum suntik di kalangan pengguna narkoba usia produktif.
Pengidap AIDS dan HIV di Kota Palembang dari tahun 1996 hingga 2011 mencapai 520 orang. Dari jumlah itu paling banyak kaum laki-laki di atas usia produktif yang penyebarannya melalui seks bebas (51 persen), disusul pengguna narkoba jarum suntik (47 persen).
“Mereka (duta pengguna narkoba) akan kita manfaatkan menginformasikan sekaligus mengajak teman sebaya untuk paham bahaya narkoba dan efek yang ditimbulakan jika mengunakan jarum suntik tersebut,” katanya. (Sumber :http://www.republika.co.id )

Guru Berperan Cegah Narkoba

0 komentar
LSM Penggerak Partisipasi Perempuan, Anak, dan Remaja Indonesia (Peppari) Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menyatakan, peran aktif guru sangat penting dalam mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar.

"Kami melihat sudah banyak dilakukan sekolah dengan cara sosialisasi dan pendekatan kepada siswa terutama oleh guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP) maupun Agama. Hal ini dapat mengantisipasi para remaja terjerumus narkoba," kata Ketua LSM Peppari Boyolali, Rusmiyati, di Boyolali, Rabu (23/3).

Ia menilai, pencegahan penyalahgunaan narkoba di berbagai sekolah di Boyolali sudah berjalan baik. Siswa di sekolah mendapat bimbingan dari para guru.

Mereka yang rawan terjerumus masalah itu, katanya, justru saat di lingkungan pergaulan di luar sekolah. Oleh karena itu, kata dia, pengawasan orang tua juga sangat diperlukan saat mereka bergaul di luar teman sekolah.

Tetapi, katanya, anak sekarang lebih pintar. Mereka terlibat dalam penyalahgunakan narkoba secara rapi dan sulit diketahui orang lain termasuk orang terdekatnya.

Ia menjelaskan, Boyolali merupakan daerah perlintasan anak jalanan dari Semarang ke Solo atau sebaliknya.

Hal itu, katanya, tentunya kemungkinan mengakibatkan rawan terhadap penyalahgunaan narkoba terutama di kalangan remaja.

"Anak jalanan ini, sering ditemukan ada yang mengonsumsi narkoba. Mereka yang menggunakan justru anak keluarga mampu, karena narkoba diperlukan biaya cukup mahal," katanya.

Pihaknya mengharapkan peran aktif pemerintah daerah melalui dinas terkait untuk lebih peduli dan sosialisasi terhadap pencegahan penyalahgunaan narkoba terutama kepada generasi penerus di Boyolali.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Negeri I Boyolali, Munjari, menjelaskan, sekolah itu secara aktif melakukan pencegahan penyalahgunaan narkoba.

Pihak sekolah melibatkan organisasi kesiswaan mendorong keteladanan di antara para siswa terkait dengan pemberantasan penyalahgunaan narkoba.

"Kami aktif memberikan pencerahan terhadap siswa soal narkoba dengan melibatkan kepolisian, guru kelas, dan pendekatan melalui ajaran agama," katanya.

Salah satu caranya, katanya, sosialisasi dengan memutar film tentang bahaya mengonsumsi narkoba dan dampaknya terhadap kesehatan manusia.

Selain itu, katanya, guru agama memberikan bimbingan kepada siswa supaya turut mencegah penyalahgunaan narkoba dan saat shalat Jumat di sekolah para siswa mendapatkan materi ceramah tentang bahaya narkoba.

"Kami belum menemukan siswa kami yang terlibat mengonsumsi narkoba di sekolah selama ini. Sekolah ini juga akan memberikan sanksi tegas bagi siswa yang ketahuan terlibat narkoba. Mereka bisa dikeluarkan dari sekolah," katanya.

Guru Agama Islam SMA Negeri I Boyolali, Ragil Rubadi, menjelaskan, siswa yang ketahuan merokok di lingkungan sekolah mendapat peringatan.

Apalagi, katanya, mereka yang ketahuan mengonsumsi narkoba akan lebih berat hukumannya.

Pada kesempatan itu ia menyatakan prihatin karena cukup banyak remaja yang berhadapan dengan hukum akibat terlibat penyalahgunaan narkoba.

Pihaknya mengharapkan, kaum remaja menghindari pergaulan di jalanan yang rawan penyalahgunaan narkoba dan kejahatan lainnya.

"Hal itu bisa memunculkan perbuatan yang negatif. Meskipun mereka hanya sekadar `gagah-gagahan` atau coba-coba seperti menenggak minuman keras dan narkoba. Jangan dilakukan itu," katanya. [TMA, Ant] ( sumber: http://www.gatra.com)

64 Warga Tangsel Terjangkit HIV/AIDS

0 komentar
               CIPUTAT (Pos Kota) – Penyebaran atau penularan penyakit HIV/AIDS di wilayah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) sangat memprihatinkan dan perlu ditangani secara berkesinambungan serta bekerja sama dengan seluruh lapisan masyarakat untuk memerangi penyebaran penyakit tersebut. “Saya sudah minta keseluruh jajaran kesehatan dan puskesmas maupun Dinas Kesehatan di Tangsel untuk melakukan dengan gencar atau rutin penyuluhan terhadap bahaya penyebaran penyakit AIDS tersebut di seluruh lapisana masyarakat mulai dari sekolah hingga lainnya,” kata Plh Walikota Tangsel Djohari Hidayat didampingi Kepala Seksi Pemberantasan dan penanggulang Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Tangsel Alwan dan Kabag Humas Alpahnaja. Remaja atau anak baru gede (ABG), tambah dia, sangat rentan dengan penyebaran penyakit tersebut terlebih jika mereka sudah terkena atau menjadi pencandu Narkoba dan seks bebas. “Narkoba yang paling berbahaya karena juga sering menggunakan jarum suntik untuk narkoba,” ujarnya. Ditambahkan Kasie P2PM Dinkes Kota Tangsel Alwan, rentannya penggunaan jarum suntik dikalangan pencandu narkoba memang sangat mendominasi bagi penyebaran atau terkena penyakit AIDS tersebut karena jarum suntik yang dipakai tidak seteril dan sering diprgunakan bergantian. Data yang ada sekitar 64 orang warga Kota Tangsel terjangkit penyakit AIDS atau HIV ini yang diketahui dari sejumlah informasi dari rumah sakit maupun puskesmas di wilayah ini. Antisipasinya memang perlu adanya penyuluhan yang terus menerus dikalangan remaja atau ABG. Penyuluhan HIV/AIDS tidak bisa dilepaskan dengan penyuluhan narkoba. “Untuk menurunkan angka penderita kami melakukan penyuluhan tentang bahaya narkoba dan seks bebas,” tambahnya. Pihaknya juga siap membantu warga atau masyarakat yang terkena penyakit tersebut dengan klinik methadone yang kini sudah ada di Puskesmas.(SUMBER: http://www.poskota.co.id )

Blog

Blog

 
BahayaNarkoba © 2011 | Designed by Blogger Templates Gallery